Rupiah Melemah, Kader IPNU Hanya bisa Tahlilan?

0
313
photo_2018-09-30_21-35-55

Kamis (27/9), IPNU-IPPNU UIN Maliki Malang menyelenggarakan sarasehan diskusi dan tahlilan rutinan. Tidak seperti biasanya, diskusi dan tahlilan kali ini menyedot antusias yang sangat tinggi, baik dari anggota IPNU-IPPNU maupun alumninya. Antusias partisipasi diskusi kali ini disinyalir akibat dari mencuatnya tema yang diangkat, yakni mengenai pelemahan rupiah yang melanda negeri ini.

Tidak sedikit media sosial dan informasi yang mengulas berita ini, meski dengan berbagai perspektif yang berbeda-beda. Mulai dari perspektif ekonomi makro dengan kajian macro-financial hingga politik praktis dengan membenturkan satu pendapat antar-politisi. Gelombang perbedaan pendapat yang kian memicu perselisihan –apalagi menyambut tahun politik 2019- ini akhirnya mengundang tanda tanya besar bagi kader IPNU-IPPNU UIN Maliki Malang.

Dengan pemaparan yang cukup mendetail dari berbagai sumber informasi media, para kader mencoba mendiskusikan bahasan pelemahan rupiah. Diskusi yang tepatnya diselenggarakan di depan ruangan Perpustakan Pusat UIN Maliki Malang ini membahas tiga pertanyaan besar. Tiga pertanyaan mengenai pelemahan rupiah tersebut di antaranya: (1) wajah fundamentalisme Rupiah di mata dunia internasional, (2) perspektif ilmiah dari masing-masing disiplin keilmuan, (3) dan sikap kader IPNU dalam menyikapi isu pelemahan rupiah.

Fundamentalisme Rupiah Di Mata Dunia

Beberapa kader IPNU mencoba mengulik berbagai sumber mengenai isu tersebut. Sebagian kader IPNU masih menjunjung sikap optimistis terhadap fundamentalisme rupiah ke depannya. Namun juga tak dapat dihindari, ada sebagian kader lain yang pesimistis dengan fundamentalisme nilai mata uang negeri yang memiliki penduduk terbesar ke-empat di dunia ini. Pendapat kubu ‘optimistis’ didasarkan pada akumulasi kekayaaan sumber daya alam yang masih dapat dikembangkan untuk menambah cadangan devisa negara. Sedangkan, pendapat kubu ‘pesimistis’ berangkat dari problematika penguasaan kekayaan sumber daya alam oleh pihak asing dan maraknya kasus korupsi dan kolusi dalam pengelolaan kekayaan di negeri ini.

Diskusi yang dimulai dengan cukup adem kian menghangat dan tidak menemukan titik kesamaan. Alur diskusi pun diserahkan kembali kepada pemantik. Pemantik mengungkapkan meski dengan data lapangan kubu pesimistis yang akurat, laporan keuangan dan kebijakan-kebijakan pemerintah secara pragmatis dinilai mampu meredam inflasi nilai tukar rupiah secara cepat. Dengan kata lain, fundamentalisme nilai tukar rupiah di mata dunia internasional masih cukup gagah. Pemantik juga menambahkan, “dengan data yang dirilis oleh Nomura Holding Incorporation, kita tentu yakin Indonesia masih cukup kuat dengan mata uang rupiahnya.”

Tinjauan Profetik Terhadap Inflasi Nilai Tukar Rupiah

Tidak dipungkiri, kader jas hijau UIN Maliki Malang ini sudah cukup besar massanya. Anggapan ini didasarkan pada meratanya persebaran kader di seluruh program studi di UIN Malang. Oleh karenanya, sangat mungkin terjadinya perbedaan yang bersifat partikular di masing-masing kader IPNU. Perbedaan perspektif ini diawali dengan adanya tanggapan dari perwakilan humaniora yang mencoba mengulas kajian rupiah dari perspektif psikolinguistik media. Media informasi dan sosial yang memaparkan keadaan nilai tukar rupiah memang sangat cocok digunakan bahan politik yang kian memanas. Oleh karenanya, framing media tentu harus disikapi secara ilmiah. Selain itu, pernyataan dari Ibu Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan juga dinilai tepat, karena dengan pernyataan tricky semacam “setiap peningkatan U$D selalu menambah pendapatan pemerintah” itu juga mampu meredam potensi konflik masyarakat menyikapi kondisi rupiah yang kian melemah.

Selain dari kader humaniora, sebagian kader pendidikan pun juga mengacungkan tangannya. Mereka berpendapat bahwa pelemahan rupiah ini juga diakibatkan oleh pendidikan konsumerisme kita yang diejawentahkan dengan sikap anti produk local dan menghargai produk budaya asing. Sikap konsumerisme semacam ini tentu cukup mengkhawatirkan, apalagi ketika situasi beberapa negara berkembang diguncang dengan kondisi ‘new normal’ saat ini.

Sikap Kader IPNU terhadap Pelemahan Rupiah

Setelah terjadi sedikit percekcokan pendapat, semua perserta diskusi akhirnya menyepakati bahwa kebijakan pemerintah sebagai waliyyul amri sudah dinilai tepat. Dengan kata lain, kader IPNU tetap memasrahkan sepenuhnya terhadap lembaga keuangan negara terkait. Argumentasi ini didasarkan dengan berbagai sumber wacana yang valid dari berbagai laman informasi media online. Selain itu, kader IPNU-IPPNU UIN Maliki Malang juga secara aktif akan mendukung penuh himbauan pemerintah sebagai langkah pragmatis guna memperkuat nilai tukar rupiah. Perdebatan malam itu pun akhirnya berujung mesra dengan pembacaan surah al-Fatihah dan do’a Kaffaratul Majlis oleh pihak alumni, dan tak lupa diakhiri dengan saling bersalam-salaman antar kader IPNU-IPPNU UIN Maliki Malang. Wallahu A’lam.

Oleh: M. Maftuhul Fahmi

Beri Komentar dan saran anda, karena itu berarti bagi kami

Silahkan beri komentar
Tulis Namamu disini