Mengaji ” Mengasah Jati Diri ” Indonesia

0
77
IMG-20181008-WA0232

(Senin, 8 Oktober 2018)

MENGAJI INDONESIA :’)

Oleh :
1) Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama RI)
2) Abd. Haris (Rektor UIN Malang)
3) Alissa Wahid (Jaringan GUSDUR-ian Indonesia)
4) Zawawi Imron (Budayawan)

“Kita tidak bisa menahan pengaruh dari luar, butuh jiwa besar untuk memberi dan menerima. Tapi sayangnya ada perasaan terancam, jadi ada perasaan merasa terancam datang dari luar kelompok. Padahal seharusnya yang kita pelajari dari masayih, yaitu bertemu, berjumpa, dan bersinergi.” Mbak Lisa

“Salah satu variabel, sebagian terancam. Secara global, persatuan Indonesia sedikit tergerus, lalu kurang menyadari antar individu ada perbedaan dan harus ada satu sikap menerima perbedaan ith dengan penuh sinergi.” Pak Haris

“Mengaji Indonesia Menurut ulama besar dari mesir Pr. Dr. Mahmud Sahtut prof al azhar. Beliau terkejut melihat Indonesia, tercetus ucapan sangat indah, yakni indonesia adalah serpihan potongan surga yang diturunkan dibumi. Berpikirlah dengan hati yang bersih, maka akan mendapatkan kemuliaan. ” KH. Zawawi

“Apa bedanya pak zawawi imron dengan pohon pisang? Bedanya kalo pak zawawi imron itu punya jantung dan hati karena kata-katanya muncul dari penalaran dan hatinya, kalo pohon pisang hanya jantung” H. Lukman Hakim

“Ada faktor anonymitas, dimana kita tega karena tidak ketemu langsung (melalui sosmed). Control diri nya tidak ada. karena itu, yang paling penting pengelolaan diri, jati diri dan watak karakter lebih penting di era ini di ruang penuh anonymitas itu untuk menghadapi beragam serbuan pengaruh ideologi.” Mbak Lisa

“Kematangan adalah keseimbangan keberanian memperjuangkan hak dan kebutuhan pribadi dengan tenggang rasa terhadap hak dan kebutuhan oranglain.” Mbak Lisa

“Revolusi Medsos, tak jelas siapa gurunya, tak jelas siapa dosennya, mungkin semua bisa ngerasa jadi dosen. Alexis carrel, th 20an. Lakukan prakiraan ilmiah, ‘nanti di era revolusi komunikasi, manusia akan diserbu ratusan hingga ribuan informasi, maka bisa kecanduan. Manusia yang mabuk informasi dia sudah ada pada stadium lupa pada jati dirinya, jika lupa jati diri, dia sudah tidak jelas manusia apa seperti itu.’ Barangsiapa yang mabuk pada informasi dan lupa tuhannya, maka dia dekat dengan setan dan menjadi remotnya setan. Gunakan tanganmu untuk merangkul, bukan untuk memukul.” KH. Zawawi

“Saya akan menentukan siapa yang akan saya pilih, sehari sebelumnya (pilpres 2019), lebih baik saya membuat puisi-puisi biar gaada musuh. Malu karena semua sedarah, tak ada tempat untuk jelek menjelekkan. Karena Indonesia milik kita” KH Zawawi

“Mengapa NU woles terhadap perbedaan? Karena ada 4 madzhab, makanya sudah biasa terhadap perbedaan-perbedaan.” Mbak Lisa

“bangunlah karakter, bangunlah kompetensi nya. Mulailah dengan karakter, karena kompetensi bisa diperoleh dengan sikap karakter” Mbak Lisa

“Mahatma gandi, 7 dosa sosial. Yakni dagang tanpa moralitas, politik tanpa prinsip.” Mbak Lisa

CLOSING STATEMENT 🙂

“Dengan keragaman, kita bisa saling mengisi untuk melengkapi. Kita nampak nya tidak bisa melepaskan gadget, kita selain punya nalar juga punya rasa, mari kedepankan sebelum berkomunikasi dengan oranglain, komunikasi dengan diri kita dahulu, apakah layak disebarluaskan.” Pak Lukman Hakim

“Di Indonesia demokrasi belum selesai, walaupun telah menelan banyak korban. Syarat untuk mewujudkan yakni tenggang rasa, menahan diri, menghindari split personality (keperibadian ganda) seperti pendakwah sekaligus penghasut. Karakter penting, lingkungan sangat mempengaruhi seperti lingkungan keluarga, sekolah” Pak Haris

“Tantangan Natural, harusnya bonus demografi, tapi mungkin menjadi mimpi buruk. Perkembangan global regional di Indonesia,…….lebih mudah bagi kita membenci oranglain, daripada berbagi tanah, air. Karena membenci itu hanya dengan ego, tapi memberi dengan kebesaran hati. Jangan menunggu, melangkahlah dijalanmu, dan Berjuang pilih jalanmu, dan konsekuen dengan itu semua.” (kurang lengkap) Mbak Lisa

Tanggapan saya :
Era Millenials, dimana semua disajikan dengan serba cepat. Informasi secepat kilat gampang didapat. Namun ingat, tidak semua informasi dapat kita muat dengan tepat akurat, perlu kecermatan untuk itu. Ada diantaranya informasi yang fakta adanya, dan adapula sebaliknya. Maka dari itu, Kontrol diri sangat penting, dengan cara membangun karakter serta kompetensi seperti yang diutarakan oleh Mbak Alissa Wahid. Selain harus mengontrol diri dalam menerima segala informasi, kita juga harus memilih dan memilah ketika akan memberikan informasi, mana yang tepat untuk di konsumsi masyarakat, dan yang membawa manfaat pada diri sendiri dan oranglain atas pengaruh positifnya. Jangan menjadi pribadi yang mudah percaya hoax, jadilah pribadi yang selalu meneliti terlebih dahulu kebenaran informasi sebelum menyebarkannya dalam masyarakat.

Era ini akan terjadi revolusi industri 4.0 (keempat) membuat kita mudah sekali mendapatkan segala sesuatu dengan cepat melalui teknologi (digital), dari perubahan dari Revolusi Industri 3 ke 4 akan menimbulkan dampak negatif dan positif. Oleh karena itu, kita diharapkan mampu untuk bertanggungjawab dalam berkomunikasi, baik secara langsung ataupun di media sosial, serta turut menghindari split personality (keperibadian ganda) seperti yang diucapkan oleh Prof. Abd Haris Rektor UIN Malang, dan harus berpikir dengan hati yang bersih dalam segala tindakan dan perilaku. (Dawuh dari KH. Zawawi Imron)

Dengan begitu, kita sebagai penerus bangsa, dapat saling memahami dan melengkapi antar perbedaan tanpa harus menjatuhkan satu sama lain sebagai cerminan dari sila ke 3 pancasila untuk persatuan dan kesatuan negara Indonesia. (Ucapan dari Pak Lukman Hakim Saifuddin)

Oleh: Putri Zulaihah

Jurusan Manajemen

Beri Komentar dan saran anda, karena itu berarti bagi kami

Silahkan beri komentar
Tulis Namamu disini