HUKUM SHALAWAT DENGAN REBANA

0
302
IMG_20180822_191748

Oleh: M. Maftuhul Fahmi

Merupakan sebuah tradisi kekinian di Indonesia ialah polemik keagamaan yang saling disilangkan antar masing-masing madzhab. Perlu diketahui sebelumnya, bahwa madzhab merupkan sebuah metodologi fiqih khusus yang dijalani oleh seorang ahli fiqih mujtahid, yang berbeda dengan ahli fiqih lain, yang menghantarkannya memilih sejumlah hukum dalam kawasan ilmu furu’. Perbedaan beberapa madzhab yang besifat far’iy (cabang) –tidak mendasar, seperti hukum shalat lima waktu, dan lain sejenisnya- dibenturkan satu sama lain oleh kalangan ‘awam tanpa arahan ulama’. Hal itu tentu berakibat serius pada kondisi keberagamaan di Indonesia. (http://aswajaonline.com/2016/03/pentingnya-bermadzhab-dalam-islam/)
Salah satu polemik hukum yang tenar dan tak terselesaikan sampai akhir ini adalah hukum shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. yang diiringi dengan rebana. Polemik tersebut semakin mengeras di masyarakat lantaran perdebatan seru antar kedua madzhab teologi, yaitu Wahhabi dan Sunni. Memang madzhab teologi bukan ranahnya dalam membahas problem ini, namun sistematika literasi dan daya nalar Wahhabi dan Sunni menghantarkan keduanya dalam membahas masalah-masalah furu’iyyah semacam ini. Sekali lagi, hukum shalawat dengan rebana bukan merupakan polemik teologi, namun terkhusus pada polemik hukum Islam (fiqh).
Hukum Islam (fiqh Islam) sendiri dalam berbagai literasinya sudah melampirkan beberapa referensi mengenai hukum membaca shalawat dan hukum rebana secara tersendiri. Mengenai hukum shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. sendiri, Allah Ta’ala berfirman :
إنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzab ayat 56)
Ibnu Abbas ra. berkata, “Maknanya, bahwa Allah dan para malaikat-Nya memberikan barakah pada Nabi SAW”. Menurut pendapat lain, maknanya, bahwa Allah Ta’ala mengasihi Nabi SAW dan para malaikat mendoakan beliau”.
Dari ayat di atas diketahui, bahwa bershalawat untuk Nabi SAW hukumnya wajib secara global, tidak terbatas dengan waktu, karena perintah Allah Ta’ala bershalawat untuk beliau SAW, dan para Imam mengartikan perintah ini dengan wajib dan mereka telah sepakat secara ijma’. (https://tebuireng.online/hukum-dan-keutamaan-shalawat-kepada-rasulullah-saw/)
Sedangkan mengenai hukum shalawat dengan memakai rebana sendiri, maka perlu diperinci sebagai berikut:
– Apabila diiringi dengan alat musik yang diperbolehkan, maka mendapat pahala (sesuai dengan khilaf diatas) dan hukumnya boleh.
– Apabila diiringi dengan alat-alat musik yang tidak diharamkan, maka menurut sebagian ulama’ (Imam Romli dan Imam Zarkasyi) mendapat pahala, mengingat hukum asal sholawat adalah sunnat. Sedangkan pemakaian alat-alat musik tersebut hukumnya haram.
Hal ini sebagaimana terlampir dalam kitab Al Jamal Alal Manhaj : jilid V hal. 36. (http://hukumzone.blogspot.com/2017/10/sholawat-yang-diiringi-dengan-terbang-banjari.html)

كما في الجمل على المنهج الجزء الخامس صحيفة 36 ما نصه :
كغناء كسر الغين والمد بلا ألة واستماعه فإنهما مكروهان لما فيه من اللهو أما مع الآلة فمحرمان وتعبيري بالاستماع هنا وفيما يأتي أولى من تعبيره بالسماع.
(قوله كغناء) هو بالضبط المذكور رفع الصوت، وأما بالقصر مع كسر العين فهو مقابلة الفقر وبفتح الغين والمد هو النفع ا هـ. ق ل على المحلي، وأما العناء بفتح المهملة والمد فهو التعب والمشقة كما في المصباح اهـ. (قوله : فإنهما مكروهان) أي ولو من أجنبية أو أمرد إلا إن خاف فتنة أو نظرا محرما وإلا حرم، وليس من الغناء ما اعتيد عند محاولة عمل وحمل ثقيل كحدو الأعراب لإبلهم وغناء النساء لتسكيت صغارهم فلا شك في جوازه قال الغزالي الغناء إن قصد به ترويح القلب ليقوي على الطاعة فهو طاعة أو على المعصية فهو معصية أو لم يقصد به شيء فهو لهو معفو عنه اهـ. ح ل (قوله أما مع الآلة فمحرمان) وهذا ما مشى عليه الشارح والذي مشى عليه م ر في شرحه أن الغناء مكروه على ما هو عليه والآلة محرمة وعبارته ومتى اقترن بالغناء آلة محرمة فالقياس كما قاله الزركشي تحريم الآلة فقط وبقاء الغناء على الكراهة انتهت (قوله لا حداء) ذكر النووي في مناسكه أنه مندوب ا هـ. ح ل (قوله ودف) وأول من سنه مضر جد النبي صلى الله عليه وسلم ا هـ. ح ل وهو المسمى الآن بالطار ا هـ. ع ش على م ر.

Menurut hemat penulis, dengan memakai segala referensi di atas tentunya kalangan ummat Islam hendaknya mengikuti ijma’ ‘ulama tersebut. Di sisi lain, bagi kalangan yang masih kontra dengan hukum di atas hendaknya dapat mentolerir adanya praktik shalawat Nabi yang diiringi dengan rebana. Mengingat, hal tersebut merupakan salah satu bentuk tradisi mayoritas ummat Islam di Indonesia. Wallahu A’lam. (mf/red)

Beri Komentar dan saran anda, karena itu berarti bagi kami

Silahkan beri komentar
Tulis Namamu disini