Gus Mus Dawuh “Bahasa & Sastra Wujudkan Perdamaian Nusantara”

0
73
IMG_20181107_203634_HDR

UINMaliki-  Gerimis rintik-rintik menyelimuti, hawa dingin membeku menusuk kalbu. Serangkaian acara Festival Jazirah Arab Jurusan Bahasa dan Sastra Arab menghadirkan Sastrawan,Kyai kharismatik KH. Mustofa Bisri atau yang sering dikenal Gus Mus, kemarin (07/11/2018) malam.

Acara yang di mulai pukul 19.00 WIB bertempat di rektorat lantai 5 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. 

Suasana khidmat dan antusias para hadirin mendengarkan kajian sastra karena beliau jarang sekali untuk bisa hadir dalam undangan karena faktor kesibukan beliau.

Berikut beberapa poin yang dibahas beliau :

 Periode Arab : Kholifah, Umayyah, Abbasiyah, Turki dan Sekarang

Nabi Muhammad adalah penganut Al-Qur’an pertama.

Suatu ketika pada zaman Rasululloh SAW tersebut sastra (sya’ir) digunakan untuk mengkhitbah, akan tetapi pada masa Sayyidina Umar adat tersebut dilarang karena dapat mengakibatkan semangat para pemuda (الشباب) melemah.

Pada zaman Rasululloh SAW orang yang membaca Al-Qur’an itu sudah mengetahui isinya, karena kala itu ada  Al-Qur’an berjalan (Nabi Muhammad SAW)

Kyai itu istilah dari budaya Jawa, orang Jawa kalau menghormati  semua yang dihormati disebut Kyai. Kemudian Kyai itu adalah orang yang melihat orang lain dengan mata kasih sayang. Beliau dihormati karena senantiasa menjaga sifatnya Kanjeng Nabi (penuh Kasih Sayang). Amar Ma’ruf Nahi Munkar adalah termasuk bentuk dari kasih sayang. Lalu orang yang memiliki kasih sayang rendah, mengingatkan orang lain yang salah tidak memakai hati. 

Orang yang suka berdalil jika tidak berperilaku Qur’any maka itu di anggap melecehkan.

Wali Songo mengajarkan perilaku Qur’any namun juga tetap menjaga bagaimana menghormati budaya lokal yang ada di masyarakat. Perlahan tapi pasti yang dahulunya melanggar syari’at di kemas sedemikian rupa untuk menarik masyarakat awam. Contoh : Nabi memaki jubah seperti umumnya karena budaya Arab seperti itu, kemudian pakaian batik juga bisa di kategorikan اتباع karena sama-sama pakaian lokal.

Orang yang anti dengan budaya lokal, maka ia tidak meniru sifat Nabi Muhammad SAW. Ciri orang Nusantara yaitu : Adab + Akhlaq. Orang yang semakin kenal dengan Nabi orang tersebut semakin bertambah berakhlak. Puncak dari berakhlaq adalah Taqwa. 

Tak lupa beliau di akhir acara membacakan sebuah puisi https://www.youtube.com/watch?v=FkWBaHTcaog

Semoga apa yang beliau sampaikan dapat kita renungi dan aktualisasi dalam kehidupan sehari-hari. 

_______________________________

Pewarta : Rekanita Umi Rohmatul Khasanah

Editor : Madchan Jazuli

Beri Komentar dan saran anda, karena itu berarti bagi kami

Silahkan beri komentar
Tulis Namamu disini