Apa kunci kesuksesan ? Gus Ali Sidoarjo | Haul KH. Abd. Hamid ke-37

0
121
IMG_20181117_024959_HDR
Dokumentasi pribadi | Ketika pembacaan Qotmil Qur'an sebelum Subuh.

NUMaliki– Mauidhoh terakhir atau ke-3 disampaikan oleh Kyai kharismatik dari tulangan Sidoarjo, KH. Ali Masyhuri yang kerap disapa Gus Ali. Pembawaan yang santai dan bahasa yang dipilih pas untuk semua kalangan termasuk kalangan awam membuat mauidhoh ini terasa mudah di cerna kepada para hadirin.

Berikut poin-poin yang di sampaikan beliau :

“Usahakanlah istiqomah dalam kebaikan” Kalau sudah dalam kebaikan terus menerus maka tidak akan berada dalam keburukan.

“Dalan ndandani iman liwat ati, ndandani ati kuwi liwat lisan” (Memperbaiki iman itu melewati hati, dan memperbaiki hati itu melalui lisan )

Senada dengan 3 pesan Baginda Nabi Muhammad SAW

  1. Jaga lisanmu.

Dalamnya sebuah laut bias diukur, dalamnya hati siapa yang tahu. Cara mengetahui hati tersebut ialah lewat gejala apa yang di ucapkannya. Beliau (KH. Abd. Hamid) tidak pernah marah marah, tak pernah mengucapkan kata kata kasar seperti “binasakan! serbu!”. Yang keluar dari beliau kata-kata atau dhawuh yang menyejukkan. Karena kelak setiap apa yang kita ucapkan itu akan di pertanggung jawabkan di haapan Allah SWT.

  1. Lapangkan rumahmu.

Rumahmu disini menurut ahli sufi yaitu hati. Tapi menurut hemat saya seharusnya dua-duanya.

Wong lak atine jembar, nangdi nggon wae bahagia (Orang kalau hatinya lapang, dimanapun tempatnya ia akan merasa bahagia)

  1. Tangisilah dosa dan kesalahan.

Sebelum dosa dan kesalaha dan dosa itu ditangisi orang lain maka tangisilah, adukan apa yang kita tidak mampu kepada Allah Yang Maha Kuasa. Teman sosial media banyak, tapi dengan tetangga tidak kenal. Mergo sing njunjung mayit opo konco sosmedmu (Apa yang kan mengangkat mayit kelak teman social mediamu)

Langkah sukses dan kebaikan

  1. Buang kebencian hati
  2. Hidup sederhana

Beliau mencontoh : Dudu gak seneng BHS tapi bagaimana bersikap cerdas. Mengetahui mana kebutuhan mana keinginan.

  1. Belajarlah suka memberi

Pandangan harus kita rubah, bukan saya dapat apa tapi apa yang bias kita berikan?

Pepatah Jawa  “ Wedi mlarat kuwi wis mlarat” (Takut jatuh miskin itu sudah alam keadaan hakikat miskin secara)

Jangan memandang sedikit atau banyaknya yang kita beri, karna lebih sedikit orang yang mau memberi.

Analogi contoh seorang buta sedang berjalan di malam yang gelap, ia tak hanya membawa tongkat tapi ia membawa lilin. Dari situ dapat kita ambil pelajaran, apa yang bias kita berikan jangan merasa sungkan kalau hanya hal sepele. Selain dengan membawa lilin menyinari jalan ia juga berguna agar dirinya terlihat sedang berjalan.

Semoga kita di kumpulkan kelak bersama para kekasihNya Allah.

Amiiin…

_________________________

Pewarta : Jaz

Beri Komentar dan saran anda, karena itu berarti bagi kami

Silahkan beri komentar
Tulis Namamu disini