ArtikelPers dan JurnalistikPKPT IPNU IPPNU UIN Malang

MUFIDAH CHOLIL CENDEKIAWAN “GENDER” DARI KAMPUS HIJAU

0

Profesor perempuan pertama di Fakultas Syariah UIN Malang

Prof Dr. Hj Mufidah Ch Mag, Perempuan kelahiran Bojonegoro 10 September 1960 menjadi profesor perempuan pertama di Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sekaligus sebagai guru besar bidang ilmu sosiologi hukum Islam. Mufidah menyelesaikan pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum Baureno, Bojonegoro, tahun 1971, Madrasah Tsanawiyah Darul Ulum Baureno Bojonegoro, tahun 1974, PGA Empat Tahun di Malang, tahun 1975, dan PGAN Enam Tahun Puteri, tahun 1977.

Baca juga: https://nu-maliki.or.id/pkpt-ipnu-ippnu-sebagai-ormas-di-dalam-negara-yang-disebut-kampus/

Selanjutnya ia menempuh pendidikan sarjana di Jurusan Pendidikan Agama Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel di Malang, dan s

elesai tahun 1985, program Pascasarjana di UNISMA Malang, dan selesai tahun 2001, dan terakhir pendidikan S3 Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel di Surabaya, lulus pada tahun 2009. Ia menikah dengan Dr. HM. Ilyas Thohari, M. Pd dan hingga hari ini dikarunia empat orang anak dan empat orang cucu. Kegiatan dan aktivitas utamanya adalah sebagai pengajar di beberapa kampus di Kota Malang.

Mendirikan Pusat Studi Gender di UIN Malang

Awal mula perjumpaan Mufidah dengan wacana-wacana gender adalah sebelum ia aktif di Pusat Studi Gender UIN Malang, tepatnya sebelum tahun 1990-an. Tahun-tahun itu, diskursus dan kajian gender sudah mulai digaungkan di beberapa perguruan tinggi Islam. Prof. Zaitunah Subhan adalah salah satu tokoh utama pengusungnya di Jawa Timur. Pada tahun 1997, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mendirikan pusat Studi Wanita yang kemudian berubah menjadi Pusat Studi Gender dengan beliau jadi ketuanya.

Namun demikian, jauh sebelum itu, Mufidah sudah dikenal sebagai pengusung isu-isu gender. Ia bersentuhan dengan tema pemberdayaan perempuan sejak menjadi mahasiswi, berlanjut ketika menjadi dosen dan menjadi matang dengan dunia aktivisme. Ia benar-benar mengusung wacana kesetaraan gender ke akar rumput tepatnya ketika paska tahun 2000 turun INPRES tentang Pengarusutamaan Gender. Ia menjadi bagian dari tim sosialisasi di daerah Jawa Timur. Bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat Jawa Timur, ia turun langsung ke berbagai kota di Jawa Timur.

Kemudian ia juga terlibat secara penuh dalam sosialisasi langsung tentang isu kekerasan pada perempuan, Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), UU Perlindungan Anak dan banyak isu yang terkait perempuan dan anak. Tidak hanya dalam dunia akademik, Mufidah juga kerap memberi pendampingan kepada beberapa korban kekerasan seksual dan kekerasan rumah tangga Bahkan ia mendirikan lembaga swadaya masyarakat yang concern mengurusi persoalan itu serta ia juga pernah minta izin kepada Gus Dur sewaktu menjadi presiden dalam pendirian LSM nya.

Dalam orasi pengukuhan guru besar Mufidah menegaskan Sejak lama, Mufidah memang sangat konsentrasi penuh terhadap perspektif gender dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hukum keluarga Islam yang di dalamnya juga masih banyak terpengaruh dominasi budaya patriarki. Menurutnya orang yang paham hukum Islam dan berada di lingkungan budaya patriarki akan berbahaya. Apalagi yang ada di lingkungan kurang paham tentang fiqih. Alasan itulah yang menjadi motifasi pendorong Mufidah untuk melakukan penelitian dengan konsentrasi perspektif kesetaraan gender.

Menurut Mufidah, sangat berbahaya jika terjadi di tengah keluarga yang kental akan hukum Islam. Sebab, laki-laki tidak hanya bersifat superior dan mendominasi, tetapi juga bisa memanfaatkan celah untuk melakukan beberapa hal yang ada dalam ajaran Islam. Salah satu contohnya adalah praktik poligami. Dari hasil penelitian yang dia lakukan di beberapa pondok pesantren, salah satunya Pesantren Salafiyah Situbondo, sebagian besar narasumber yang di wawancarai menyampaikan jika alasan seseorang menerima poligami lantaran ayahnya melakukan hal demikian.

Namun sebagian lagi menolak karena menilai poligami sangat menyakitkan karena menurut temuanya terjadi konflik emosi anak ketika melihat ibunya dipoligami.Banyak terjadi dalam kultur keluarga Islam yang masih didominasi sistem patriarki. Perempuan dibuat tidak bisa bergerak banyak dengan berbagai alasan yang dibuat Seperti poligami, suami akan mengatakan jika itu adalah bagian dari ibadah dan istri akan mendapat pahala jika mengizinkan. Itu sebabnya saya katakan hukum Islam akan tidak karu-karuan jika didominasi oleh budaya patriarki.

Kekhawatiran dan ketakutan atas wacana kesetaraan gender

Pengarusutamaan kesetaraan gender di Indonesia kerap menemukan batu sandungan bahkan bisa disebut masih menimbulkan kontroversi. Menurut Mufidah, masih banyak kekhawatiran dan ketakukan atas wacana ini. Penyebabnya seperti, pertama, kepentingan untuk mempertahankan status quo sebagai bagian dari manifestasi budaya patriarkhi; kedua, masih kuatnya pemahaman tekstual karena teks dipandang tidak memiliki problem penafsiran; ketiga, penolakan terhadap budaya Barat yang dipandang sebagai jahiliyah modern.

Baca juga: https://www.nu.or.id/daerah/ini-sikap-muslim-yang-baik-bila-berpuasa-menghadapi-orang-yang-marah-marah-mwaCh

Merespons orang yang kerap menolak wacana ini, sikap yang dipilih Mufidah adalah rendah hati atau dalam bahasa agama tawadhu. Ia menuturkan, ia berusaha semaksimal mungkin menghindari debat kusir yang bisa menyebabkan permusuhan makin tajam. Keluar dari itu, ia memilih tawadhu sembari mendoakan agar wacana yang ia usung mengandung manfaat. Ke depan ia berharap semua yang kiranya bermanfaat terkait wacana kesetaraan gender harus terus dilanjutkan, apa pun hambatannya.

Pengarusutamaan kesetaraan gender harus melibatkan semua aspek, bukan hanya dari aspek intelektual melainkan juga dari hati dan perasaan. Lebih-lebih untuk situasi sekarang pada saat hambatannya semakin kompleks. Selain itu, mengingat perkembangan dunia digital, kampanye-kampanye kesetaraan gender juga bisa dilakukan dengan memanfaatkan media digital. Misalnya, membuat konten-konten yang cerdas dan bermafaat tentang kesetaraan gender. Mufidah memiliki karya akademik yang banyak seperti: Paradigma Gender, Psikologi keluarga Berwawasan Gender.

Penulis: Ahmad Muflihul Wafa

Editor: Lkarima

PAKPT IPNU-IPPNU K.H. Wahid Hasyim Laksanakan Rukyatul Hilal dan Ziarah Wali Sebagai Program Tahunan dalam Menyambut Bulan Penuh Berkah

Previous article

PUBERTAS DALAM BERAGAMA

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel