ArtikelKaderisasiPers dan Jurnalistik

Kader IPPNU Selaku Inisiator Penggunaan Paradigma Feminisme Sebagai Instrumen Keadilan Gender dalam Beragama

0
Foto: Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama' (IPPNU)
Foto: Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama' (IPPNU)

Beberapa dekade terakhir, isu dan urgensi penerapan feminisme sedikit banyak mulai disadari oleh masyarakat saat ini. Sebagaimana yang kita ketahui, ketidakadilan gender yang mayoritas dirasakan perempuan merupakan budaya yang sistemis.

Artinya, ia memang dilanggengkan demi tegaknya kultur patriarki. Ketidakadilan gender ini kemudian terwujud dalam lima bentuk: stigmatisasi, subordinasi, kekerasan, marginalisasi, dan labeling.

Parahnya lagi, masih banyak orang yang menganggap budaya patriarki ini direstui agama. Bahkan rekonstruksi tafsir atas ayat-ayat yang sering dimaknai misoginis dianggap melenceng dari syariah, dituduh liberal, dan sembarangan menafsirkan tanpa ilmu.

Baca juga: Optimisasi Pelajar Putri di Era Kiprah Pemudi

Biasanya adalah tuduhan “barat” yang menjadi kartu As kaum konservatif menyikapi hal ini. Padahal, Islam secara universal selalu menegaskan kesetaraan kedudukan antar umat manusia. Ini termasuk juga setaranya gender laki-laki dan perempuan dalam sama-sama menerapkan kemanfaatan atau kemaslahatan di bumi (Khalifah fil ardh).

Dalil universal yang menjadi pegangan qath’i ialah Q.S. al-hujurat: 13 salah satunya, serta sekian hadis Nabi Muhammad SAW tentang pentingnya memberlakukan semua manusia sama.

Dikotomi “Barat Vs Timur” pun harusnya tidak relevan lagi, terlebih tuntutan zaman yang terus berkembang sementara beberapa tafsir misoginis masih digunakan sebagai alat represi perempuan.

Atas dasar kebutuhan inilah, sekian ulama kontemporer seperti KH. Faqihudin Abdul Qodir dan KH. Husein Muhammad (yang merupakan anak kandung NU) menawarkan tafsir mubadalah sebagai respon atas tafsir-tafsir yang umumnya tidak bersahabat terhadap perempuan.

Dari sinilah prinsip nahdliyyin yang progresif sedang terbuka pada perubahan untuk menerima dan menyambut inovasi positif ini, meski paradigmanya adalah feminisme yang sering disangsikan terlebih dahulu.

Lebih-lebih kader IPPNU sebagai pelajar putri mereka diharapkan mau untuk terus berpikiran terbuka dan membuka ruang-ruang dialog demi kemajuan peradaban itu sendiri.

Baca juga: Bolehkah Mengabungkan Thawaf Wada’ dangan Ifadhah?

Mereka diharapkan menjadi penerap pertama tafsir-tafsir ramah perempuan, sehingga mereka mampu berdaya dan ikut mendayakan pelajar-pelajar putri sekitarnya, karena salah satu masalah gender yang belum juga tuntas ialah tentang ketimpangan akses pendidikan.

Memasuki abad kedua, anggaplah sebagai gerbang pembuka pikiran yang lebih akomodatif selama ia senapas dengan syariah. Substansi harus diutamakan daripada ketakutan-ketakutan tak berdasar, karena memandang suatu paradigma luar secara formalis (kulit) saja.

Karena substansi feminisme adalah keadilan untuk semua gender, selama selaras dengan syariat maka sah saja kita akomodasi kerangka berpikirnya demi kemaslahatan umat. Jangan halang-halangi ide pelajar putri untuk mengeksplorasi dimensi keilmuan hanya karena ia berasal dari barat, ini tidak bijaksana.

Padahal dalam hadis pun disebutkan bahwa Islam adalah agama hikmah (kebijaksanaan), di mana saja kita menemukan hikmah maka ambillah itu.

Akhir kata, semoga impian progresivitas IPPNU benar-benar terimplementasikan. Bukan sekedar jargon progresif belaka, sembari terus mengutuk feminisme secara keseluruhan.

Memang setiap ideologi di dunia ini mengandung kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Maka kitalah yang harus bijak-bijak mengambil saripati kemanfaatan ideologi tersebut.

Penulis: Mutiara Balqis Nabilah Rahmi

Editor: Fani Azfar

Optimisasi Pelajar Putri di Era Kiprah Pemudi

Previous article

Fun Futsal IPNU PAKPT K.H Hasyim Asy’ari VS FKMT: Menyambung Relasi, Kuatkan Jasmani

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel